Postingan Baper Awal Tahun

2 Jan 2017

Dan #BestNine2016 pun tau bagaimana membuat cerita yang berkesan di 2016 kemarin. Hahaha

Saya ingin ceritain kisah dibalik foto-foto yang dikompilasi sama Best Nine 2016 dari akun Instagram saya. Nggak banyak yang saya posting cuma 206 foto/video dengan 7.275 likes. Okeh, saya ceritain aja ya, dimulai dari foto pertama dari kiri atas. Yang baca nggak usah baper, cukup saya saja. :D


Foto satu, Pantai, di Pulau Pahawang, itu hadiah terindah setelah sedih gagal ke Ternate pas momen Gerhana Matahari tahun lalu bareng @detikcom karena sakit terserang Demam Berdarah dan harus bedrest hampir 2 minggu lebih. Lalu Allah menggantinya dengan pantai yang memang saya butuhkan, butuh piknik tanpa embel-embel harus buat reportase setelahnya. Ke Pulau Pahawang itu gratisan, hadiah dari seorang teman, namanya Mak Irul, teman blogger dari Jogja.


Pulau Pisang dijepret @feriakabudi


Foto 2, Pantai , di Pulau Pisang, saya bermimpi berada di Pulau ini tahun 2014 silam. Ada khayalan yang saya putar di otak, lalu tiba-tiba khayalan itu menjadi nyata. Tadinya saya nggak mau, nggak berani melihat nyata itu di depan mata, tapi saya nekat mewujudkannya, yang berakhir sedikit ada something trouble dalam hati saya. Uhuk!
Tapi nggak apa-apa, inilah hidup… kita nikmati saja. Ke Pulau Pisang ini juga gratisan, saya ikut foto kontes dari akun @IniLampungYay (foto pantai di Pahawang) dengan caption yang katanya terbaik. Padahal itu caption curhat, di saat lagi galau. Tapi traveling ke Pulau Pisang kemarin itu memang sebuah keajaiban takdir jalan Tuhan. Perjalanan yang membuat saya banyak belajar lagi untuk mengerti sesuatu dan berani bangkit dari rasa sedih.

 

Foto 3, Laut dan Ombak, di Bukit Selalaw, Krui, saat berada di sini, saya masih kaget dengan kejutan yang Allah berikan. Apa ini? Ke Krui? Pulau Pisang? Jika kalian tau perasaan saya saat itu. Rasanya saya ingin meminum semua air laut dan menjatuhkan diri ke dalamnya. Demi Tuhan… ini seperti mimpi. Deg-degannya lebih parah dari ketakutan saya dihantam ombak saat menyeberang ke Pulau Pisang sore itu. Kaki yang saya foto itu adalah simbol, bahwa saya harus melangkah melihat dunia yang lebih luas lagi. No baper, tinggalin semua bongkahan batu yang menyesakkan dada. Sebenarnya ini susah banget diungkapin. Saya deg-degan karena ingin membuktikan sesuatu. Apakah saya cuma terbawa suasana atau memang sedang jatuh cinta. Dan saya sudah tau jawabannya apa, perasaan itu hanya seperti burung yang sedang terbang, lalu hinggap di pohon, dan pergi untuk terbang lagi.


Pulau Pisang dijepret @victorgustin23


Foto 4, Pantai, masih di Pulau Pisang. November kemarin lagi lagi saya gagal ikut perjalanan, lebih tepatnya meliput ke Madura bersama teman-teman blogger, tiket pp, hotel yang sudah saya pesan dan rencana-rencana ketemu temen blogger di Surabaya terpaksa saya batalkan. Ini luar biasa, November yang memaksa saya untuk kembali belajar ikhlas. Ada tiga masalah yang saya hadapi, beberapa teman tau saya menangis berhari-hari karena masalah itu. Rasanya saat itu saya ingin menyerah, mau bilang terserah deh Tuhan maunya apa. Saya nggak kuat lagi. Kenapa semuanya harus saya?? Kenapa?? Pertanyaan pertanyaan itu membuat saya ’sakit’. Sakit banget rasanya merasakan itu semua. Seakan jalan jalan tertutup dan nggak ada kesempatan buat saya berlari sebentar dari kegelisahan yang saya hadapi itu.
Tapi sekali lagi Allah memang Maha Baik, saya nggak boleh berburuk sangka, tagline blog yang saya buat harus saya praktekkan bukan cuma sekedar tulisan, “Berpikir positif untuk hidup lebih baik”. Hidupmu boleh penuh dengan kerikil-kerikil yang menyesakkan dada, tapi kamu nggak boleh mengabaikan kehadiran Tuhan. Tuhan akan memberikan yang kamu butuhkan, bukan yang kamu mau, bukan nafsu sesaat, bukan gengsi apalagi egois hanya memikirkan dirimu sendiri. Think positif, think fresh! okeeeh.
Dan benar saja… Pantai di Pulau Pisang ini memang membuat saya belajar banyak hal.
Ini juga susah diungkapkan, tapi ini adalah hadiah akhir tahun yang Tuhan kasih ke saya. Dan saya bersyukur Allah menakdirkan saya datang ke sini. Selain ke Pulau Pisang, saya juga dapat hadiah dari sebuah kesetiaan.
Yang saya tau, jangan pernah takut dengan kegagalan, karena yakin Allah akan menggantinya dengan yang lebih indah.

Foto 5, Emak, untuk membuktikan sesuatu kamu harus melakukan sesuatu. Kata-kata ini saya ingat terus saat perjalanan kembali ke Bogor minggu lalu. Pulang untuk emak di bulan Hari Ibu. Tapi ada sesuatu yang harus saya buktikan dari kepulangan saya kemarin. Saya sedang mencoba memahami kembali diri saya sendiri. Selama ini saya melupakan siapa saya, saya seperti menjadi orang lain. Jadi, saat tau ada satu prioritas yang harus aya jalani, saya ingin memulainya kembali tahun ini. Bismillah, karena saya percaya, Allah pasti akan membuka jalan, jika saya nggak gampang menyerah.

Foto 6, Bearbrand. Sepertinya setelah saya posting foto iklan ini ada banyak yang berubah dari cara saya berpikir. Saya kembali seperti anak ABG, lalu menjadi dewasa, kembali ABG lagi dan menjadi dewasa lagi. Begitu terus…sampai saya tau, sesuatu sudah membuat saya kacau.


Foto 7, Ondel ondel di Car Free Day, Jakarta, foto selfie yang saya buat ini sebenarnya saya ingin menunjukkan ke beberapa orang bahwa saya baik-baik saja, tapi saya nggak bisa bohong, senyum dengan ondel-ondel itu palsu. Hari itu saya dihukum. Itu saja.

Orang-orang mungkin hanya melihat saya dari satu sisi, hanya sekali lihat, hanya dari foto-foto yang saya posting di sosial media, tapi mereka nggak pernah tau saya aslinya seperti apa. Saya hampir nggak perduli sebenarnya orang mau ngomong apa saja tentang saya, mau jelek atau bagus terserah mereka. Mereka punya pandangan sendiri dan saya punya kehidupan sendiri. Tapi, saya tau, saya cuma manusia biasa. Melakukan kesalahan dan merasa tak sanggup jika harus jadi omongan orang atas apa yang sudah saya lakukan.

Foto 8, Emak (lagi). Di suatu siang, saya melihat emak, terdiam di pinggir jendela Bus City Tour yang kami tumpangi dari mengunjungi Monas Agustus 2016 lalu. Di situ, hati saya rasanya tercabik-cabik, ingin menghindari dari tatapan banyak pertanyaan yang ingin Emak keluarkan. Tapi Emak memang tak mengeluarkan satupun pertanyaan. Dan saya tau Emak sangat mencintai saya, begitupun saya. Hanya saja…

Dan foto terakhir yang saya suka. Foto saya terlihat tersenyum lepas, tanpa beban dan memang saya melepas sedikit sedikit beban yang menghimpit di tahun 2016 lalu dengan cara tertawa. Hahahaha

Karena tertawa membuat kita dapat melihat masalah dari cara yang berbeda. Nggak usah terlalu dipikiran apalagi sampai baper berkepanjangan nggak selesai-selesai sampai harus mengorbankan banyak waktu. Cukup tertawa… seperti kata teman.

Kalau pengen nangis, nangis saja sepuas-puasnya habis itu kamu pasti bisa tertawa, menertawarkan segala hal yang membuatmu lemah tak berdaya. Nggak apa-apa terlihat sedikit gila. Nggak apa-apa, karena ini sudah 2017. Hihihi


TAGS tahun baru bestnine2016


-

Author

Melly Feyadin
melly_feyadin@yahoo.com

Blogger || Bogor || Lampung || #DetikBlogger || Instagram/Twitter >> @melfeyadin www.melfeyadin.web.id

Follow Me

Search

Postingan