Belajar Seharian di Sekolah?

9 Aug 2016

Saya belum membaca banyak wacana ataupun berita-berita yang ada di internet. Tapi, setidaknya saya membaca status-status teman facebook yang sudah punya anak sekolah. Bagaimana mereka menanggapi wacana dari Pak Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang baru. Tentang siswa yang belajar full seharian di sekolah.

Eh, gimana pak? Harus banget, ya?

Kebanyakan, para orang tua merasa tak tega, seharian di sekolah? Kasian dong anak-anaknya, pasti bakalan sumpek liat tembok-tembok sekolah. Memang benar, nggak sepenuhnya belajar seperti biasa, full day itu disertai kegiatan ektrakulikuler sesuai minat dan bakat si anak.

Tapi, ini menurut pendapat pribadi saya, ya.

Jika seharian di sekolah dan pemerintah menuntut semua pelajarnya untuk mengikuti aturan, itu sama saja melanggar hak dan merampas kebebasan mereka. Manusia butuh bersosialisasi nggak cuma di sekolah saja, anak-anak maupun pengajarnya.

Lalu, katanya ini bakal diterapkan secara nasional, di desa-desa maupun di perkotaan. Ok, kalau di kota mungkin asik-asik saja, banyak fasilitas yang mungkin dapat semakin mengembangkan bakat si anak. Anak-anak juga mungkin bakal lebih happy menghabiskan waktunya di sekolah karena banyak permainan dari pada di rumah, mungkin juga sepi karena sebagian orang tuanya juga full day di kantor. Atau mungkin anak-anak akan tersiksa di sekolah, karena terpaksa mengikuti kegiatan yang nggak sesuai kemauan mereka.

Tapi, bagaimana dengan di desa? Kebebasan untuk bermain-main di air sungai setelah pulang sekolah seperti si Bolang itu mengganggu pikiran saya. Anak-anak nggak punya lagi rencana yang membangkitkan semangat mereka, janjian di kebun tetangga untuk berpetualang mencoba menaklukan alam dengan keberanian mereka.

Atau, bagaimana jika jarak antara sekolah dan rumah mereka jauh?
Coba bapak menteri bayangkan… bayangkan misal seperti Lintang di film Laskar Pelangi, yang membutuhkan waktu lebih banyak di perjalanan menuju sekolah. Bahaya lho, pak, apalagi jika jalanan yang mereka lalui itu melewati hutan, atau mungkin jembatan gantung yang hampir roboh, jika waktu sudah mau gelap, sudah pasti suasananya akan mencekam. Ini juga akan menambah pekerjaan orang tua mereka yang mungkin terpaksa menjemput.

Jika mereka harus pulang jam 5 sore, kapan waktunya mereka bermain dengan teman-teman tetangganya? Kapan mereka harus belajar agama (mengaji buat yang Islam) karena rata-rata mengaji itu sore hari sebelum magrib. Sementara di waktu yang seharusnya mereka belajar agama, mereka masih dalam perjalanan pulang. Sampai rumah sudah pasti lelah, belum lagi jika ada tambahan PR (pekerjaan rumah) dari sekolah.

Lalu, ini pertanyaan saya, apakah full day ini untuk semua siswa pelajar dari SD-SMP sampai SMA?

Bapak Menteri pernah berpikir, tidak? Jika ada siswa-siswa pelajar itu yang harus membantu keluarganya mencari nafkah? Pulang sekolah mungkin harus menjaga warung, menjaga adik-adiknya karena orang tuanya bekerja, atau mungkin ikut berjualan ke pasar dan sebagaimana. Toh, kita tidak bisa membayangkan bahwa semua keluarga di Negara kita ini sejahtera, kita tidak bisa mengesampingkan hal itu juga, kan?

Ini masalah anak-anaknya, lalu gimana dengan para guru, pengajar di sekolah-sekolah itu. Masih sama, guru-guru di Negara kita ini juga masih banyak yang hidup-nya pas-pasan. Yang terpaksa mencari pekerjaan sampingan diluar menjadi guru dan mengajar. Jika seharian mereka harus mengikuti kurikulum yang baru seharian di sekolah. Gimana mereka dapat menutupi kekurangan mereka? Sementara gaji-nya tidak dinaikkan malah ditambahi beban. Lagian, ya pak.. nggak full day di sekolah aja, mereka anak-anak ini sudah penuh dengan kegiatan di luar sekolah, yang jam pulangnya melebihi orang kantoran. Yang bimbel, yang les music, yang les olah raga dan lain-lain.

Oh, memang setiap perubahan itu memang membutuhkan proses dan penyesuain, mau tidak mau kita harus mau. Jika melanggar kita dianggap menentang pemerintah.

Tapi, pak..

Ah.. ini mungkin hanya kegelisahan saya saja, membaca status teman-teman facebook saya. Karena memang nggak semuanya mendesah dengan perubahan yang akan diterapkan ini.

Saya cuma berdoa, semoga kebijakan kurikulum yang baru ini ngga menambah beban masyarakat Indonesia. Karena anak-anak sekolah itu generasi bangsa. Jika mereka tertekan, apa jadinya dengan masa depan?

 

Foto dari Google.


TAGS Opini


-

Author

Melly Feyadin
melly_feyadin@yahoo.com

Blogger || Bogor || Lampung || #DetikBlogger || Instagram/Twitter >> @melfeyadin www.melfeyadin.web.id

Follow Me

Search

Postingan