Suatu Saat Nanti Siapa Yang Akan Menanam Padi?

10 May 2016

Siapa? Kok kayaknya pertanyaan ini tuh, bikin sedih banget, ya? Siapa? Seakan-akan memang nggak ada lagi orang yang mau menanam Padi. Padahal makanan pokok kita sehari-hari itu adalah beras, yang asa muasalnya dari sebutir Padi.

Siapa?? Heiii… jawab dong. hehe.

Ya petani, lah.. memangnya siapa lagi?

Petani?

Kamu tau nggak? di kampung saya, sudah sangat jarang petani yang menanam padi, lahan-lahan pertanian yang tadinya ditanami padi, Jagung, yang sekarang tergantikan oleh tumbuhan lainnya. Lahan itu sekarang ditanami pohon Karet, Pohon Jati, pohon-pohon yang menjulang tinggi.

Sepuluh tahun lalu tidak seperti itu. Saya masih bisa merasakan, tetangga-tetangga bersemangat pergi ke ladang membawa benih-benih untuk ditanam. Bergotong royong menanam Padi, Jagung. Saat panenpun seperti itu, mereka berduyun-duyun membantu ke rumah si empunya ladang. Sarapan pagi bersama lalu bersama-sama ke Ladang. Ahhh.. membayangkan itu saya tiba-tiba rindu, rindu ikut ibu ke Ladang memanen Padi, menggunakan ani-ani alat tradisional pemetik padi, dan bermain-main dengan jerami-jerami kering yang bikin gatal kulit yang berakhir dengan mandi di kali. http://margeraye.blogdetik.com/2015/08/13/sebulan-tlah-berlalu

Kan masih banyak desa-desa lain penghasil padi?
Oh ya? Kalau masih banyak, kok bisa kita impor beras murah dari negara asean lainnya? Padahal kita itu negara lumbung padi, tanah kita subur. Bahkan Koes Plus menyebut tanah kita adalah tanah surga, tongkat kayu dan batu bisa jadi tanaman. Kenapa kita mengabaikannya?

Lalu, mengapa ada pertanyaan, suatu saat nanti siapa yang akan menanam padi? Apakah negara kita akan jadi negara yang tak produktif lagi dan hanya menjadi negara yang konsumtif? Karena lahan-lahannya sudah ditumbuhi bangunan-bangunan kokoh, bukan lagi tanaman padi yang akan kita panen setiap 6 bulan sekali. Dan bagaimana nanti nasib para petani kecil di negeri ini?

Sebenarnya saya menulis pertanyaan ini, karena beberapa waktu yang lalu, saya mendengarkan lagu, liriknya bercerita dan mengajak diskusi tentang pertanyaan yang sama

Jika suatu nanti, kakekmu tlah pergi
Siapa yang akan menanam padi?

Jika suatu nanti engkau tlah dewasa
Hijaukah tanah ini?
Suburkah tanah ini?
Masihkah tanah ini?

Betapa kegelisahan yang dirasakan dan ditulis oleh Komunitas Akar Bambu yang merefleksikan kepeduliannya terhadap lingkungan melalui musik dan lagu.

Siapa yang tidak ikut gelisah? Kalau diberi pertanyaan seperti itu? Kecuali kita tak peduli lagi dengan bumi dan kelangsungan mahluk hidup di dalamnya, yang saling berhubungan dan membutuhkan (simbiosis mutualisme).


TAGS padi EVENT


-

Author

Melly Feyadin
melly_feyadin@yahoo.com

Blogger || Bogor || Lampung || #DetikBlogger || Instagram/Twitter >> @melfeyadin www.melfeyadin.web.id

Follow Me

Search

Postingan